Saturday, 3 June 2017

Harmonisasi dan Nuansa Islami di Masjid Kalipasir di Tengah Kawasan Pecinan Pasar Lama



Harmonisasi dan Nuansa Islami di Masjid Kalipasir di Tengah Kawasan Pecinan Pasar Lama 

                
                                             Joshua Christian-00000011963

               Mendengar nama Tangerang mungkin kebanyakan masyarakat hal yang terbayang pertama kali adalah Cina Benteng, Pasar Lama dan lain-lain. Ya, memang, tidak hanya sebagai pasar tradisonal rakyat dan wisata kuliner pada malam hari,  kawasan Pecinan Pasar Lama juga terkenal di lingkungan yang kental budaya Tionghoanya.
               Kawasan Pasar Lama merupakan kawasan Pecinan yang sudah ada lama sejak akhir tahun 1700. Biasanya mereka beribadah di Klenteng Bon Tek Bio. Tak Jauh dari klenteng tersebut, kira- kira hanya berkisar 100 meter jaraknya terlihat ada menara dan kubah masjid berbentuk seperti pagoda cina. Luas masjid tak terlalu besar, kalau menurut saya mungkin tak sampai 400 m2. Tepat di samping masjid ada menara yang tinggi menjulang. Menara bewarna hijau dengan ketinggian hampir 10 meter digunakan sebagai tempat untuk melaungkan azan, panggilan untuk solat umat Islam.
                 Untuk akses menuju ke masjid ini tidaklah mudah. Setelah memasuki gerbang biru kawasan Pasar Lama, sekitar 200 meter disebelah kanan ada pasar tradisional. Pasar tersebut lumayan kecil. Tak sampai 300 meter panjangnya. Jalanannya becek. Hanya motor yang bisa masuk ke dalam. Meskipun kecil, apa saja bisa didapatkan di pasar ini mulai dari ikan, cumi, kepiting, sayur-sayuranan buah-buahan sampai bumbu. Setelah memasuki pasar, jalan terus sekitar 300 meter, sampai dapat gang masjid dan di sanalah Masjid Jami Kalipasir berada.            
               Masuk ke dalam masjid, saya tidak menemukan siapapun.  Tidak ada jamaah yang sedang shalat atau marbot masjid yang sedang membersihkan masjid. Saya berusaha melihat siapa pun di sekitaran masjid. Berusaha mencari orang yang bisa memberikan banyak informasi mengenai masjid unik ini. Tepat di samping masjid, ada beberapa ibu-ibu yang sedang nongkrong menikmati udara sore Tangerang. Saya coba permisi dan menanyakan salah satu dari ibu tersebut. Singkat cerita, saya disuruh ke rumah salah satu Dewan Kemakmuran Masjid(DKM) Kalipasir ini. Beberapa anak-anak, mungkin ada tiga atau empat jumlahnya ikut menemani saya menuju rumah beliau. Tak jauh berjalan, kira-kira hanya 100 meter jaraknya kami sudah sampai di rumah beliau. Setelah mengetuk pintu dan menanyakan ada atau tidaknya beliau, istri beliau mengatakan bahwa beliau sedang ke Bogor untuk menghadiri acara nikahan keluarganya.
                Berhubung saya ingin mengulik lebih dalam tentang masjid ini, saya tidak hilang asa. Saya meminta ibu tersebut untuk memberitahu siapa lagi yang bisa saya minta keterangan nya mengenai masjid ini. “ Pak RT saja mas, rumahnya dekat juga kok dari sini.” kata beliau sambil tangannya menunjuk arah rumah pak RT. Akhirnya, saya menuju rumah pak RT yang memang tidak jauh juga dari masjid kalipasir ini, hanya berjarak 10 rumah dari masjid. Setelah mengetuk pintu rumah dan mengucapkan salam, akhirnya bu RT datang menghampiri kami dan tak lupa juga membalas salam. Bu Siti namanya. Istri Ketua RT 01/04 Kalipasir. Postur tubuhnya lumayan berisi. Rangka mukanya yang bulat menununjukkan keramahannya. Usianya kira –kira 50 an tahun. “Bu, benar dengan rumah ketua RT ya buk. Bapaknya ada buk?” tanya saya dengan penuh harap. “Bapak sedang keluar mas.” Jawab Bu Siti. Akhirnya saya banyak bertanya-tanya tentang masjid Kalipasir itu dengan Bu Siti. Saya dan Bu Siti berbincang-bincang di depan teras rumahnya ditemani cuaca mendung dan angin berhembus lumayan cukup kencang.
                Masjid Kalipasir ini merupakan masjid pertama di Tangerang. Dibangun sejak tahun 1608 oleh pangeran Kahuripan Bogor, masjid ini diteruskan oleh keturunannya. Tumenggung Aria Ramdhon, putranya Aria Tumenggung Sutadilaga, lalu Raden Aria Idar Dilaga(Aria terakhir di Tangerang), kemudian diteruskan oleh Nyi Raden Djamrut beserta suaminya Raden Abdullah sampai 1904 danditeruskan lagi oleh putranyha Raden Jasin Judanegara. Setelah nama terakhir wafat, kepengurusan diteruskan oleh masyarakat setempat.     
               Ada hal yang unik dari masjid jami kalipasir ini. Di belakang masjid, terdapat beberapa makam tua. Makam tua itu merupakan komplek makam para tumenggung yang memerintah dan mengurus masjid dari generasi ke generasi. Dahulunya komplek makam tersebut berundak-undak. Namun pada tahun 2000 karena terkena penggusuran oleh tata kota Tangerang yang mengharuskan bantaran sungai dibatasi oleh beton dan pembuatan jalan raya, maka tanah makam yang tergusur tersebut ditumpukkan pada komplek makam yang tidak terkena gusur. Tidak hanya makam para raden dan tumenggung pendiri masjid ini saja yang ada di makam ini,di sini juga terdapat makam Bupati Tangerang R. Achmad Pena, beserta keluarganya.  Ada juga terlihat seperti makam spesial di belakang masjid jami kalipasir ini. Pasalnya, 2 makam tersebut dipagari dan letaknya ditengah-tengah makam yang lainnya. Makam tersebut adalah makam Nyi Guru Hj. Murtafiah beserta suaminya. Beliau semasa hidupnya pernah mendirikan pesantren putri bernama Al Maslahat dan beliau merupakan seorang guru(Ustadzah se-tangerang bahkan se-jawa).
                Masjid yang berada di sebelah timur sungai cisadane ini berukuran 280 m2 persegi. Karena masjidnya yang terbilang kecil, masjid ini tidak diperuntukkan untuk ibadah shalat jumat. Ada juga yang unik dari masjid ini. Jelas sekali terlihat bahwa arah kiblat masjid jami kalipasir tidak sejajar dengan bangunan masjid. Ini tentu saja berbeda dengan kebanyakan masjid modern sekarang yang bangunan masjidnya sudah mengikuti arah kiblat. Bentuk mimbar yang mengarah ke kiblat dan adanya bedug menjadi pelengkap masjid ini.  Kubah masjid berbentuk ukiran bunga mawar, terlihat seperti proses akulturasi antara Islam dan Tionghoa. Sebenarnya, kubah masjid itu awalnya bewarna hitam yaitu berbahan dasar dari tanah hitam (pasir karbala). Namun, karena bagian coraknya sudah terkikis usia, sehinggga banyak bagian yang jatuh dan hampir jatuh, oleh karena itu diwarnai dengan warna emas dengan harapan sederhana yaitu agar tidak terlalu banyak bagian yang jatuh lagi. Arsitekturnya juga tidak ada mengadopsi budaya Cina, jika memang mirip, itu hanya kebetulan saja.
               Berpredikat sebagai cagar budaya sejak tahun 2000, bangunan masjid juga sudah mengalami perluasan dan perbaikan bebarapa kali dari tahun ke tahun sehingga tidak terlihat lagi bahan aslinya, kecuali bagian mimbar dan tempat imam. Meskipun demikian, walau mengalami beberapa perbaikan tapi bentuknya masih menyerupai bentuk aslinya.
               Saya bertanya sedikit untuk mengetahui pendapat ibu Siti terhadap keberagaman beragama saat ini. “ Bu, bagaimana masyarakat disini menjaga kerukunan beragama saat ini.” tanya saya. “Ya, di sini, aman-aman aja ya. Tentram-tentram aja, damai-damai aja. Meskipun daerah kawasan Pecinan tetapi saya yang sudah bertahun-tahun tinggal disini tidak pernah ada konflik apalagi konflik agama di kawasan daerah kita ini, di kawasan Pasar Lama ini.” ujar beliau dengan semangatnya membagikan pengalamannya.
               “Di sini juga saling membantu ya, pihak klenteng juga sering membagikan sembako, beras dan lain lain ketika sedang lebaran. Pokoknya kita saling bantu saja. Tidak menggangu satu sama lain, tidak mengembuskan isu sara. Karena kita tahu ya isu sara ini sangat sensitif sekali. Jika ada apinya sedikit saja, pasti semuanya menjadi kacau. Ini yang terus dan memang harus kita jaga.” ujar beliau panjang lebar dengan sesekali dengan napas terengah-engah sangking ekspresifnya.  
               Ada empat tiang di dalam masjid yang menjadi penyangga masjid tersebut kokoh berdiri. Letaknya tepat di tengah-tengah masjid. Terbuat dari kayu jati, tiang-tiang tersebut kini telah disanggah oleh stainless steel.  Ini dilakukan karena salah satu dari empat tiang tersebut sudah tidak menempel ke tanah, kurang lebih 15 cm.
               Adapun bentuk menara masjid yang dibangun tahun 1904, didirikan dan dibangun oleh putra dari Raden Abdullah yaitu Raden Jasin Judanegara. Meskipun bentuk menaranya terlihat seperti pengadopsian unsur kebudayaan antar etnis dan agama, tetapi itu hanya kebetulan saja dan dibuat tidak mengadopsi kebudayaan manapun. Pada tanggal 24 April 1959 sampai Agustus 1961 menara lama diperbaiki dan dirombak oleh pengurus pembagunan saat itu diantaranya adalah H.Mtoha bin H. Muhibi, Hasbullah Kadir bin R.Abdul Syukur Jasin, Nyai Guru Hj. Murtafiah Binti KH. Asnawi, dan M. Badri AM. Di dalam masjid juga terdapat ukiran kaligrafi . Diantaranya adalah ukiran kaligrafi nya berisi surat AL-AN’AM:192 : KATAKANLAH: SESUNGGUHNYA SEMBAHYANGKU, IBADAHKU, HIDUPKU, DAN MATIKU, HANYALAH UNTUK ALLAH, TUHAN SEMESTA ALAM. Meskipun sudah cukup lama ada, sekitar 49 tahun yang lalu namun ukiran tersebut masih tetap terawat. 
Di samping sejarah yang tersimpan di dalamnya, Masjid Jami Kalipasir juga memiliki kebudayaan pada setiap peringatan Maulid Nabi Muhamad SAW. Dewan Kemakmuran Masjid(DKM) dan para warga kalipasir selalu melakukan arak-arakan(karnaval) perahu, yang dikeluarkan dari masjid mengelilingi kampung sampai kembali lagi ke masjid yang kemujdian dilanjutkan dengan pembacaan kitab syarofal anam. Perahu tersebut diberi nama Safinatunnajah wasslamah yang artinya bahtera keselamatan dan perahu tersebut berisikan buah-buahan serta cendera matadan perangkat ibadah.
Kebudayaan ini merupakan warisan karuhun(leluhur) yang melambangkan datangnya Islam membawa cahaya keselamatan di di dunia menuju akhirat. Perjuangan penyebaran Islam ini digambarkan dengan perahu yang berarti perjalanan penyebaran Islam yang sebagian besar melalui perairan.
Setelah berbincang cukup lama dan juga sudah mulai maghrib, saya berpamitan dengan bu Siti dan berterima kasih atas banyaknya pengetahuan yang saya dapatkan tentang masjid ini. Namun, saya masih belum puas, sekitar 3 hari saya kembali lagi ke masjid ini untuk mewawancarai Bapak Ahmad Sjairodji sebagai Ketua Dewan Kepengurusan Masjid Jami Kalipasir. Mukanya ekspresif dan penuh kecewa saat menjelaskan peran pemerintah dalam menjaga dan merawat kawasan masjid Kalipasir ini. Dahinya berkerut, dan kepalanya langsung menggeleng ketika mendengar pertanyaan saya.
               Berpredikat sebagai cagar budaya sejak tahun 2000, tak menjadikan Masjid tertua di Tangerang ini mendapat perhatian ekstra dari pemerintah. ”Perhatian pemerintah minim sekali, sangat minim, bahkan hampir tidak ada. Disitulah hal yang memang saya sesalkan. Pemeliharaan dan perawatan masjid, itu semuanya adalah dana swadaya warga Kalipasir.” Masalah harmonisasi keagamaan, beliau juga setuju dengan Bu Siti. ”Dari dulu sampai sekarang, alhamdulillah warga Kalipasir khususnya dengan tetangga, itu tidak ada gesekan-gesekan SARA yang menjadikan suatu permusuhan agama.”
               Agar nuansa islami tetap kental terasa di tengah kuatnya budaya Tionghoa di kawasan Pecinan Pasar Lama Tangerang ini, majelis Taklim secara rutin menggelar pengajian dan dakwah islami yang menyejukkan hati. Ada juga taman pendidikan alquran yang diadakan ketika petang menjelang.

sisa hidup




SISA HIDUP

Panti Sosial Tunagrahita Belaian Kasih merupakan satu-satunya panti anak-anak Cacat Intelektual yang terletak di Tangerang, berdiri sejak tahun 1996 dan diresmikan pada tanggal 8 Mei 1997 di Tangerang oleh Pemerintah Kota. Panti Sosial Tunagrahita Belaian Kasih memberikan pelayanan, perawatan, dan bimbingan yang meliputi rehabilitas sosial, medis, pendidikan dan keterampilan bagi penyandang disabilitas yang terlantar.
            Panti Sosial Tunagrahita yang meyediakan kapasitas 220 orang tersebut dikepalai Ngapuli P.,AKS., M.Si, namun jumlah kini telah menjadi 247 orang,dengan kasus anak Cacat intelektual, Sindrom Down, dan  juga Autis, jumlah ini dipastikan akan terus meningkat, dan tidak akan menurun ungkap Ade (37), salah seorang pegawai yang bertugas dalam bidang pelayanan di Panti Sosial Bina Grahita Belaian Kasih.
“Anak-anak di panti ini datangnya dari berbagai daerah, sebagian besar kita terima anak-anak ini dari polisi yang melakukan razia di jalan, lalu polisi menangkap anak-anak ini yang di buang orang tuanya di pinggir jalan, atau yang memang hilang dari rumahnya tapi tidak bisa kembali pulang. Ada juga beberapa yang dititipkan sama orang tuanya karena mengaku mau bekerja tapi enggak bisa jaga anak dengan kondisi anak yang cacat, jadi harus dititipkan dulu sementara, tapi abis itu satu atau dua bulan hilang jejaknya, waktu di cari lagi orang tuanya ke alamat yang di kasi udah pindah enggak tau pindah kemana. Terus, ada juga anak dari panti-panti kecil di daerah-daerah, misalnya kemarin ada dari sukabumi ada dua anak baru dikirim kesini, panti-panti kecil itu cuma buat tempat sementara aja nampung mereka sebelum di bawa kesini, panti-panti daerah juga dapat dari polisi,”cerita pak Ade saat ditemui, Senin (15/05/2017).
            Angin bertiup lembut terasa melewati beberapa helai rambut yang tak terikat keatas kepala saya, langkah kaki sedikit cepat menuju kantor Pak Ade disambut oleh 10 anak-anak panti yang bergiliran memberhentikan saya hanya untuk memberi salam dan memanggil saya ibu. Siang hari yang memancarkan terik sinar matahari, pohon-pohon tinggi melambaikan daun-daunnya yang lebat menambah suara ramai dari anak-anak di halaman yang sedang melakukan aktivitas siang, ada yang bernyanyi di bawah rindang pohon, ada yang menyapu membantu tukang pembersih, ada yang mengambil dedaunan yang jatuh kedalam got dengan menggunakan tangan telanjang, ada juga yang berbaring di balkon panti, ada yang menangis sambil termenung, ada yang sibuk bermain sendiri. Wajah polos dan tingkah mereka menjadi pemandangan yang tak biasa saya lihat di luar sana.
“Tingkah lakunya memang bermacam-macam anak-anak ini, saya sudah jadi hafal semuanya, ada anak yang suka bukain jahitan baju, sampai kebuka bajunya, sekecil apapun itu jahitan baju bisa di buka,” ungkap Ade sambil menunjuk kepada anak yang sedang lewat. “Ada anak yang kerjaannya lukain diri sendiri lalu darahnya di hisap-hisap gitu, sudah delapan bulan enggak sembuh-sembuh lukanya, saya tetap kasi obat,eh...obatnya malah dijilat-jilat, terus ada juga yang tiba-tiba lewat nabok, kan bikin orang kaget,”tambah Ade dengan ekspresi tertawa.
Panti Sosial Tunagrahita Belaian Kasih memilki 1 gedung yang di khususkan bagi anak-anak, pada bagian lantai 1 kondisinya sangat memprihatinkan, ruang makan yang menebarkan bau menyengat terhirup di setiap sudut ruangan, lantai basah dan lengket, kotoran manusia, air seni, muntah, serta makanan bekas tumpah,  bercampur di ruang yang pengap tanpa pendingin ruangan, setiap perawat yang mengurus anak-anak disabilitas ini menggunakan masker berwarna hijau untuk menutupi hidung mereka dari bau yang membuat perut mual ini. Ada meja-meja kayu berjajar panjang dua baris berwarna coklat terang ditemani bangku bewarna sama tanpa sandaran di kiri dan kanan meja. Pada lantai yang sama hanya berjarak beberapa langkah yang di batasi satu lorong sedikit gelap terdapat kantor pak Ade.
Jarum jam menunjukan tepat pukul 12:00 siang, waktunya jam makan siang, kesempatan ini membuat semua anak-anak berkumpul di lantai 1 untuk menikmati makanan yang disajikan. Ada yang tidak makan karena menangis, ada yang menyuapi temannya makan, ada yang disuapi pengurus anak-anak disabilitas karena tidak bisa bergerak lagi, anak-anak ini duduk tak berdaya diatas kursi roda, ada pula yang menumpahkan makanan di lantai lalu makan dari lantai, ada yang mengambil makanan temannya, ada anak yang memakan makanan bekas yang di tinggalkan. Suasana makan siang berjalan dengan baik, tidak ada yang membuat keributan, wajah ceria terukir dari beberapa anak karena mereka sangat suka makan,menurut pengakuan pak Ade, anak-anak panti makan lebih dari porsi orang dewasa, cemilan tiga kali sehari belum termasuk makan utama, siang, sore, dan malam.
  Makan siang yang berjalan baik itu menjadi pemandangan yang sangat mengganggu ketika sebuah sapu di kibaskan di atas meja makan oleh pembersih untuk membersihkan ruangan, hal itu bak tanda bahwa jam makan siang sudah selesai meskipun saat anak-anak masih menikmati makanannya dengan lahap. Kehadiran anak-anak yang menikmati santapan siang tidak di hiraukan, tukang pembersih seperti tidak melihat bahwa ada yang sedang makan, akhirnya debu-debu pun berterbangan disekliling meja makan.
Setelah selesai makan siang, sebagian anak-anak mengikuti perawat yang di bawa naik ke lantai dua dengan menggunakan lift menuju kamar dimana mereka beristirhatat, sisanya ada yang bermain di halaman, bersantai, dan ada juga yang membantu membersihkan sisa-sisa makan siang.
            Ade Supriyanto, lelaki yang kira-kira memiliki tinggi 175cm ini berbadan tegap dan berkulit coklat pekat dengan rambut hitam belah tengah, wajahnya sederhana dan dan ramah. Lelaki ini telah bekerja selama 7 tahun di panti, dirinya mengaku senang dan nyaman dengan pekerjaan yang dilakukannya, meskipun banyak pekerjaan lain yang dapat ia lakukan,dirinya memilih menjadi pegawai negeri dan melayani di panti bagi anak-anak disabilitas ini.
            “Saya merasa beruntung, di kasi semuanya lengkap, ya bersyukur pokoknya! Kalau ngomong soal gaji mah, dipikir-pikir enggak seberapa, tapi ya pekerjaan ini enggak bisa ngomomg gaji la, ini soal hati, yang jadi relawan juga banyak disini, mereka Cuma karena merasa tergerak hatinya untuk membantu, ada juga anak kuliahan yang buat tesis lalu jadi bantuin anak-anak sekalian. Bisa dilihat anak-anak ini enggak seberuntung kita. Kasihan mereka selama ini orang-orang pikir mereka ada cacat intelektual jadi di terbelakangin, padahal seharusnya enggak boleh gitu, mereka kan juga punya hak sama seperti kita, harusnya mereka ini di bimbing dan di didik, mereka ini pasti bisa berkembang kok, meskipun lambat saya yakin mereka ini bisa jadi orang yang berguna. Mereka ini warga negara Indonesia juga jadi berhak dapat hak yang sama,”cetus Ade.
            Anak-anak penderita Cacat Intelektual atau keterbelakangan mental memiliki IQ di bawah rata-rata anak normal pada umumnya, hal ini menyebabkan kecerdasan dan intelektualnya terganggudan menyebabkan permasalahan-permasalahan lainnya muncul pada saat proses perkembangan anak (Krik & Gallagher, 1989:116).
Lain halnya dengan anak dengan penderita Sindrom Down  akan memiliki beberapa komplikasi kesehatan, komplikasi ini disebabkan karena semua organ di dalam tubuh bisa terkena dampak material genetika ekstra, hal ini menyebabkan berbagai penyakit menggerogoti tubuh mereka, seperti misalnya demensia, masalah penglihatan, leukemia, gangguan jantung, lebih rentan terhadap infeksi, masalah kelenjar tiroid, masalah pendengaran, obesitas, kejang, masalah kulit, menopause dini dan henti napas saat tidur. Sindrom Down  sendiri merupakan suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom. Kromosom ini terbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan. Menurut buku  human development edisi ke 9 karangan diane  e.papalia, Sally Wendkos Old, Ruth Duskin Feldman.  Bahwa terjadi ke-abnormalan pada kromosom 21 ekstra atau translokasi kromosom 21.
            “Ada satu anak namanya Andri, udah komplikasi, paru-parunya udah parah, ginjal kanannya udah engga berfungsi, jantungnya juga udah parah, kalau kata dokter mah udah tinggal tunggu waktu aja, tapi saya percaya kalau hidup itu cuma ada di tangan Allah yang nentuin, makanya sering saya bawa berobat anak ini. Tapi ya memang ada juga yang enggak ketolong, paru-parunya udah parah, pas mau di bawa kerumah sakit udah meninggal,” tambah Ade sambil menunjukan foto jenazah anak dari handphone nya.
            Anak-anak penderita Sindrom Down tidak bisa disembuhkan, namun dengan dukungan dan perhatian yang maksimal, anak-anak dengan Sindrom Down bisa tumbuh dengan bahagia juga.  Penderita Sindrom Down memiliki tingkat ketidakmampuan belajar dan hambatan pertumbuhan yang berbeda antara satu sama lain. Beberapa perkembangan penting kadang-kadang terkena dampaknya, termasuk cara berbicara, berjalan, membaca, berkomunikasi, meraih barang, berdiri, dan duduk. Dampak keterbelakangan mental seperti perilaku impulsif, kesulitan dalam mengambil keputusan hingga kemampuan atensi minim juga dapat terjadi. Anak-anak dengan sindrom Down bisa mengalami masalah kesehatan yang berbeda-beda dan akan membutuhkan perawatan medis serta perhatian ekstra. Oleh sebab itu Panti Sosial Bina Grahita Belaian Kasih bekerja sama dengan beberapa rumah sakit agar kebutuhan medis anak-anak Sindrom Down terpenuhi.
            Interaksi kehidupan penghuni Panti Sosial Bina Grahita Belaian Kasih memang cukup dinamis dan harmonis, namun perbedaan kondisi kejiawaan yang tidak stabil sering menjadi penyebab terjadinya pertengkaran sesama penghuni. Sebagian besar anak di panti memiliki keterbelakangan mental dari tingkat rendah hingga yang sudah sulit untuk disembuhkan, dan hal tersebut menjadi tugas besar bagi pekerja panti yang terus diupayakan agar jumlah anak  dengan keterbelakangan mental terus berkurang. Hal lainnya adalah para perawat atau pekerja sosial di panti Tunagrahita harus memiliki tenaga yang selalu fit dan ekstra.
“Berada di tempat ini sudah menajdi pilihan saya, hal ini menjadi pilihan saya karena saya merasa nyaman aja disini,  sebelum bekerja disini saya memang sudah kuliah untuk bekerja di bidang sosial, pas masuk kerja disini juga enggak kaget, karena saya udah siap dengan segala konsekuensi,pekerjaan ini tidak berat sebenarnya untuk saya mungkin bagi orang lain iya, yang penting adalah sabar dan jangan pernah mukul kalau kesel, itu kesalahan kita kalau sampai mukul,” ungkap Winda(27) salah satu perawat.
Tidak seberuntung anak-anak normal lainnya, dengan adanya panti Tunagrahita, setidaknya anak-anak cacat intelektual tidak berkeliaran di jalan dan masih mendapat perlindungan yang cukup layak di bandingkan terlantar di jalan, kesepian, kelaparan, kedinginan, dan menjadi pengganggu di masyrakat.
“Anak-anak di Panti Tunagrhatia berbeda dengan anak-anak panti lainnya, mereka tidak mungkin di adopsi bagi pasangan yang menginginkan anak, ya krena mereka kan cacat, sehingga hal tersebut membuat anak-anak di panti Tunagrahita menghabiskan sisa hidupnya hanya dalam panti, hari demi hari di jalani, tak pernah terpikir oleh mereka akan ada orang tua yang datang menjemput, bahkan sampai ajal menjemput orang tua pun tidak tau,”tutup Ade.

 Jayanti
00000011929
Feature Writing

Ritual Chiou Thaou dan Sangjit di Pasar Lama Tangerang


CHIOU THAOU DAN SANGJIT

Riska Andriani - 00000010785



“Jadi, ritual pernikahan yang mana yang akan anda lakukan nantinya?” “Yang sederhana dan mudah saja.” “Ritual Jawa, Tionghua, Sunda atau ritual lainnya?” “Ritual yang sesuai kesepakatan orang tua aja. Tapi, yang paling sederhana dan mudah aja.”

Merintis Budidaya Mangrove

MERINTIS BUDIDAYA MANGROVE
Oleh Delvin Pramata (00000010612)


            Gergaji mesin itu sedikit demi sedikit mengikis permukaan batang pohon itu hingga tumbang. Pisau gergaji itu juga menyusuri permukaan akar tunjang milik pohon yang tumbuh di perairan payau tersebut. Akhirnya, yang tersisa hanyalah tunggul akar yang masih menancap di bawah permukaan yang tertutup air dan lumpur. Sisa penebangan dibiarkan tergeletak begitu saja. Tak jarang ranting-rantingnya hingga terbawa ke tengah laut karena terseret ombak.
            "Tunggu sudah kering baru dibawa dan dibakar!" Perintah seorang pria yang dianggap "mandor" kepada anak buahnya.

Betapa Pentingnya Pendidikan

Betapa Pentingnya Pendidikan

Rizma Audina Oktariyanti
00000012107


Berdiri tepat di atas sebuah gapura, bangunan itu sudah terlihat. Jalan itu lurus dan beraspal, mengarah ke bangunan tersebut. Di pinggiran jalan sebelah kanan dan kiri dibatasi oleh trotoar kecil berwarna hitam dan putih, sebagai pembatas antara jalanan beraspal dengan hamparan rerumputan hijau yang luas di halaman depan. Kendaraan mobil dan motor berjajar rapi di parkiran depan bangunan itu. Tepat di bagian depan sisi kanan, beberapa orang terlihat sedang berlalu-lalang dari sebuah ruangan yang bertuliskan Pusat Layanan Pengaduan, Informasi, dan Pendaftaran Kunjungan. Mereka berjalan menuju ke pintu masuk yang berada di bangunan itu. Sebagian dari mereka menggenggam sebuah kantong plastik hitam yang berisi cukup penuh di tangan kanan dan kirinya, berisi makanan dan pakaian untuk salah satu kerabatnya di dalam.

Yang Tak' Terlepas Dari LAPAS

Yang Tak’ Terlepas Dari LAPAS
Rifdah Aliifah
00000012222

            Jalan panjang, hamparan rumput hijau yang luas, arit, sapu lidi, pengki, dan juga gerobak sampah, merupakan penampakan yang menghiasi LP anak wanita Tangerang pagi itu. Ditemani dengan tiga orang wanita yang mengenakan jilbab biru dongker dan seragam berwarna biru muda dengan tulisan  bordiran “Kemenkumham Pengayoman” di lengan kanannya. Di tengah kerja bakti terdapat gerbang besi besar berwarna abu-abu dengan jendela kecil ditengahnya yang berukuran 20 x 15 cm, inilah penampakan pertama ketika tiba di LP anak wanita Tangerang. Ketukan demi ketukan terdengar samar, terlihat seorang wanita paruh baya mengenakan seragam serba biru tua sambil membawa kain lap yang ingin memasuki ruangan dibalik gerbang besi besar itu.

Bayaran Sebuah Pekerjaan



Bayaran Sebuah Pekerjaan
Oleh: Timotius 


Henny (35) yang tengah mengajar matematika kepada anak-anak kelas empat SD yang kurang mampu di tempat les Dutasia,Gandasari, Jatiuwung, Kota Tangerang, Banten.


Sesekali wanita dengan murah senyum itu mengelap keringatnya yang mengucur di dahinya dengan pergelangan tangannya. Ia terus berusaha melantangkan suaranya yang tidak sebanding dengan suara keramaian anak-anak disana.

Belum selesai dengan anak-anak yang menyibukkannya, beberapa anak lain terus berdatangan ke saung itu, saung yang berlantai semen dan beralaskan beberapa tiker yang serabutnya mulai rusak.